Rabu, 22 Juni 2016

TUGAS IBD [Pengaruh Budaya Terhadap Perkembangan Mesin Pertanian]



Apa kabar teman-teman semua...

Pada kesempatan yang baik kali ini saya kan membuat suatu pembahasan tentang pengaruh budaya terhadap perkembangan teknologi permesinan.

Pembahasan yang akan saya lakukan kali ini lebih saya fokuskan pada perkembangan mesin-mesin pertanian baik pra panen maupun pasca panen.
Hal ini juga berkaitan dengan tugas dari mata kuliah IBD tentang pembuatan kajian budaya dan relevansinya terhadap teknologi mesin.

Kembali ke topik. teman sudah kita ketahui alat-alat pertanian yang digunakan petani untuk bercocok tanam maupun mengolah lahan telah beraneka ragam jenisnya. Mulai dari alat sedehana sampai ke alat bermesin.
Budaya dalam bercocok tanam di berbagai wilayah di Indonesia beraneka ragam jenisnya. Hal ini juga dipengaruhi kebiasaan yang telah dikerjaan orang-orang terdahulu sebelum mereka.

Teman perlu diketahui bahwa lebih dari 80% petani Indonesia belum mengunakan alat pertanian modern bermesin dalam pekerjaan mereka. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan metode-metode konvensional dalam menggarap lahan, mulai dari membajak masih menggunakan cangkul ataupun kerbau.


Karena masih menggunakan alat sederhan yang kurang efektif maka belakangan pemerintah tengah giat menggalakan "Mekanisasi Pertanian" atau suatu usaha untuk melakukan efisiensi usaha pertanian dengan penggunaan alat mekanis, sehingga hasil panen yang dihasilkan dapat diggenjot dan melonjak tinggi.




 *Mekanisasi Pertanian

Teman,  Menurut hasil Simposium Mekanisasi Pertanian tahun 1967 di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, ilmu mekanisasi pertanian  adalah

"ilmu yang mempelajari penguasaan dan pemanfaatan bahan dan tenaga alam untuk mengembangkan daya kerja manusia dalam bidang pertanian, demi kesejahteraan umat manusia. Pengertian pertanian dalam hal ini adalah pertanian dalam arti yang seluas-luasnya."


Menurut Prof. A. Moens (Agricultural University Wageningen):

“Mechanization of agriculture is the introduction and the utilization of any mechanical aid to perform agricultural operations”. Menurut Prof. Sunyoto (Universitas Gadjah Mada): “Agricultural Mechanization is defined as the application of mechanical energy in agriculture, while agriculture itself in broad sense is a science and method of plant and animal production, which is useful for man kind, including all the processing activities of the products to be used by man”.


Peralatan mekanis adalah semua jenis benda dan perlengkapan yang digerakkan oleh manusia, hewan, motor bakar, motor listrik, angin, air, atau sumber energi lainnya. Mekanisasi juga dapat didefinisikan sebagai semua penerapan ilmu keteknikan untuk mengembangkan, mengatur, dan mengontrol kegiatan produksi pertanian.

Tujuan pokok mekanisasi di bidang pertanian adalah: 1) meningkatkan produktivitas pekerja; 2) merubah karakter pekerjaan pertanian, yaitu membuatnya menjadi tidak berat dan menarik; dan 3) meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian.

Smith dan Wilkes (1996) berpendapat bahwa alat mekanis adalah


"alat yang dapat bergerak dan mempunyai tenaga (manusia, hewan, motor bakar/listrik, angin, air, dan sumber energi lain). Sedangkan operasi pertanian merupakan usaha manusia mengubah karakteristik/posisi suatu objek. Misalnya, tanah: diolah lalu ditanami; benih: dari gudang lalu disemai."

Karakteristik objek pertanian ditentukan oleh tipe aktivitas, besar aktivitas (luasan/berat/jumlah), waktu (mulai-selesai), lamanya (jangka) waktu, hasil (kuantitas-kualitas), biaya, beban kerja, pengaruh terhadap lingkungan, dan sebagainya.
Namun demikian, ada sejumlah permasalahan yang berhubungan dengan alat dan mesin pertanian (alsintan), antara lain: adanya mesin tipe baru, bagaimana mengubah desain, bagaimana menguji komparatif/evaluasi, efisiensi dan efektivitas, studi tentang tanah, desain model alsintan, faktor waktu dan gerak, gaya bagian gerak (percepatan/ perlambatan), berat mesin dan keseimbangan, getaran dan kelelahan, dan sebagainya.

Teman kaitan unsur budaya berpengaruh dalam perkembangan mesin pertanian itu sendiri. Sebagai contoh suatu budaya kedaerahan yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal dan menutup diri dari segala apa yang memicu modernisasi pasti selalu menyulitkan untuk sekedar merubah kebiasan bertani mereka dengan alat yang lebih canggih. Di daerah pedalaman Jawa sebagai contoh masyarakat disana masih banyak melakukan pekerjaan membajak sawah dengan menggunakan kerbau ataupun cangkul konvensional, menanam padi secara manual satu demi satu, serta pengolahan pasca panen yang masih sederhana.

Berbeda dengan budaya barat yang bertolak belakang dengan apa yang kita lihat sekarang di negeri kita. Ketertinggalan modernisasi alat pertanian sangat jauh terlihat, disana pembaharuan segala model alat pertanian telah dilakukan dengan mesin-mesin yang mendukung pengerjaanya.


Alhasil kembali lagi pada budaya masing-masing. Seyogyanya membuka diri pada hal baru itu tidak ada salahnya, apalagi bila hal baru tersebut dirasa membawa dampak positif bagi kita.

Dampak positif perkembangan mesin pertanian terhadap budaya :
  1. merubah karakter pekerjaan pertanian, yaitu membuatnya menjadi tidak berat dan menarik
  2. meningkatkan produktivitas pekerja
  3. meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian.
  4. Mendorong percepatan kemajuan dalam suatu kebudayaan.

Author : Riyan T

www.gunadarma.ac.id
studentsite.gunadarma.ac.id
kemahasiswaan.gunadarma.ac.id
http://baak.gunadarma.ac.id/ 
http://ocw.gunadarma.ac.id/
http://elearning.gunadarma.ac.id 
http://library.gunadarma.ac.id
http://wartawarga.gunadarma.ac.id
http://community.gunadarma.ac.id/
 http://v-class.gunadarma.ac.id

Riyan Taufiqurrahman
1IC04
26415099
riyan2906@gmail.com


#TUGASIBD

Rabu, 04 Mei 2016

Tugas Softskill

Kesenian Reog Terhadap Masyarakat Ponorogo


Haiiii.... teman-teman pembaca.
Baru pertama kali nih ngisi blog baaru ku ini. Beberapa waktu yang lalu aku diberi tugas oleh dosen Ilmu Budaya Dasar untuk membuat tugas kajian kecil-kecilan berupa sebuah contoh budaya yang bisa dikaitkan dengan aspek tertentu.

Reog..  1 kata yang terlintas dibenakku jika itanya budaya. kalian tahu reog kan? iyak betul Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. 
lalu apa peran reog dalam budaya itu sendiri?
Kenapa reog identik dengan ponorogo?
Kenapa dalam pertunjukanya sering diselipi aksi mistis?
hm.. sudah jangan banyak tanya.. mari kita kaji bersama, teman ! :)


Teman sebenarnya, ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Tiongkok, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya . Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping.
Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,
Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Sekian ya teman penjelasanya hehe.. Jaga dan lestarikan terus Budyamu
#IndonesiaberBudaya


Dampak Positif Reog Terhadap masyarakat Ponorogo
1. menjadi ikon kabupaten Ponorogo.
2. memperkaya kesenian masyarakat
3. sarana pemersatu masyarakat
4. Warisan leluhur bangsa asli Indonesia

 Dampak Negatif Reog Terhadap masyarakat Ponorogo
1. Pertunjukan reog yang berbau mistis dan ilmu kebatinan dikhawatirkan membuat pemain ataupun   penikmat seni melakukan perbuatan bidah, tahayyul, khuffarat
2. Aksi-aksi yang dilakukan berbahaya

Riyan Taufiqurrahman
1IC04
26415099
riyan2906@gmail.com