Apa kabar teman-teman semua...
Pada kesempatan yang baik kali ini saya kan membuat suatu pembahasan tentang pengaruh budaya terhadap perkembangan teknologi permesinan.
Pembahasan yang akan saya lakukan kali ini lebih saya fokuskan pada perkembangan mesin-mesin pertanian baik pra panen maupun pasca panen.
Hal ini juga berkaitan dengan tugas dari mata kuliah IBD tentang pembuatan kajian budaya dan relevansinya terhadap teknologi mesin.
Kembali ke topik. teman sudah kita ketahui alat-alat pertanian yang digunakan petani untuk bercocok tanam maupun mengolah lahan telah beraneka ragam jenisnya. Mulai dari alat sedehana sampai ke alat bermesin.
Budaya dalam bercocok tanam di berbagai wilayah di Indonesia beraneka ragam jenisnya. Hal ini juga dipengaruhi kebiasaan yang telah dikerjaan orang-orang terdahulu sebelum mereka.
Teman perlu diketahui bahwa lebih dari 80% petani Indonesia belum mengunakan alat pertanian modern bermesin dalam pekerjaan mereka. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan metode-metode konvensional dalam menggarap lahan, mulai dari membajak masih menggunakan cangkul ataupun kerbau.
Karena masih menggunakan alat sederhan yang kurang efektif maka belakangan pemerintah tengah giat menggalakan "Mekanisasi Pertanian" atau suatu usaha untuk melakukan efisiensi usaha pertanian dengan penggunaan alat mekanis, sehingga hasil panen yang dihasilkan dapat diggenjot dan melonjak tinggi.
*Mekanisasi Pertanian
Teman, Menurut hasil Simposium Mekanisasi Pertanian tahun 1967 di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, ilmu mekanisasi pertanian adalah
"ilmu yang mempelajari penguasaan dan pemanfaatan bahan dan tenaga alam untuk mengembangkan daya kerja manusia dalam bidang pertanian, demi kesejahteraan umat manusia. Pengertian pertanian dalam hal ini adalah pertanian dalam arti yang seluas-luasnya."
Menurut Prof. A. Moens (Agricultural University Wageningen):
“Mechanization of agriculture is the introduction and the utilization of any mechanical aid to perform agricultural operations”. Menurut Prof. Sunyoto (Universitas Gadjah Mada): “Agricultural Mechanization is defined as the application of mechanical energy in agriculture, while agriculture itself in broad sense is a science and method of plant and animal production, which is useful for man kind, including all the processing activities of the products to be used by man”.
Peralatan mekanis adalah semua jenis benda dan perlengkapan yang digerakkan oleh manusia, hewan, motor bakar, motor listrik, angin, air, atau sumber energi lainnya. Mekanisasi juga dapat didefinisikan sebagai semua penerapan ilmu keteknikan untuk mengembangkan, mengatur, dan mengontrol kegiatan produksi pertanian.
Tujuan pokok mekanisasi di bidang pertanian adalah: 1) meningkatkan produktivitas pekerja; 2) merubah karakter pekerjaan pertanian, yaitu membuatnya menjadi tidak berat dan menarik; dan 3) meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian.
Smith dan Wilkes (1996) berpendapat bahwa alat mekanis adalah
"alat yang dapat bergerak dan mempunyai tenaga (manusia, hewan, motor bakar/listrik, angin, air, dan sumber energi lain). Sedangkan operasi pertanian merupakan usaha manusia mengubah karakteristik/posisi suatu objek. Misalnya, tanah: diolah lalu ditanami; benih: dari gudang lalu disemai."
Karakteristik objek pertanian ditentukan oleh tipe aktivitas, besar aktivitas (luasan/berat/jumlah), waktu (mulai-selesai), lamanya (jangka) waktu, hasil (kuantitas-kualitas), biaya, beban kerja, pengaruh terhadap lingkungan, dan sebagainya.
Namun demikian, ada sejumlah permasalahan yang berhubungan dengan alat dan mesin pertanian (alsintan), antara lain: adanya mesin tipe baru, bagaimana mengubah desain, bagaimana menguji komparatif/evaluasi, efisiensi dan efektivitas, studi tentang tanah, desain model alsintan, faktor waktu dan gerak, gaya bagian gerak (percepatan/ perlambatan), berat mesin dan keseimbangan, getaran dan kelelahan, dan sebagainya.
Teman kaitan unsur budaya berpengaruh dalam perkembangan mesin pertanian itu sendiri. Sebagai contoh suatu budaya kedaerahan yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal dan menutup diri dari segala apa yang memicu modernisasi pasti selalu menyulitkan untuk sekedar merubah kebiasan bertani mereka dengan alat yang lebih canggih. Di daerah pedalaman Jawa sebagai contoh masyarakat disana masih banyak melakukan pekerjaan membajak sawah dengan menggunakan kerbau ataupun cangkul konvensional, menanam padi secara manual satu demi satu, serta pengolahan pasca panen yang masih sederhana.
Berbeda dengan budaya barat yang bertolak belakang dengan apa yang kita lihat sekarang di negeri kita. Ketertinggalan modernisasi alat pertanian sangat jauh terlihat, disana pembaharuan segala model alat pertanian telah dilakukan dengan mesin-mesin yang mendukung pengerjaanya.
Alhasil kembali lagi pada budaya masing-masing. Seyogyanya membuka diri pada hal baru itu tidak ada salahnya, apalagi bila hal baru tersebut dirasa membawa dampak positif bagi kita.
Dampak positif perkembangan mesin pertanian terhadap budaya :
- merubah karakter pekerjaan pertanian, yaitu membuatnya menjadi tidak berat dan menarik
- meningkatkan produktivitas pekerja
- meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian.
- Mendorong percepatan kemajuan dalam suatu kebudayaan.
Author : Riyan T
www.gunadarma.ac.id
studentsite.gunadarma.ac.id
kemahasiswaan.gunadarma.ac.id
http://baak.gunadarma.ac.id/
http://ocw.gunadarma.ac.id/
http://elearning.gunadarma.ac.id
http://library.gunadarma.ac.id
http://wartawarga.gunadarma.ac.id
http://community.gunadarma.ac.id/
http://v-class.gunadarma.ac.id
Riyan Taufiqurrahman
1IC04
26415099
riyan2906@gmail.com
#TUGASIBD




